Home
News Index
Forum
Kirim SMS Gratis!
Search
Download Software
Contact Us

Bookmark and Share







Subcribe RSS Feed
Mobil Nasional Indonesia Segera Terwujud?
Monday, 08 March 2010
 Potensi pasar Indonesia untuk industri otomotif cukup besar mengingat jumlah penduduknya yang mencapai ratusan juta orang. Hal ini membuat sejumlah produsen mobil berlomba-lomba memasarkan produknya, meski ditengah ancaman krisis global.


Peluang ini juga dilirik produsen  mobil nasional, meski gempuran produk asing masih menguasai pasar Indonesia.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Industri Automotif Nusantara (Asianusa) Ibnu Susilo gempuran dominasi asing tidak akan membuat  produsen mobil nasional (mobnas) merasa terkucilkan. Mereka justru melihat peluang lain yang masih terbuka.

Paling tidak, lanjutnya, produsen mobnas bisa mengisi pasar mobil dengan harga pasaran di bawah Rp 100 juta. “Kami yakin, dengan harga pasaran di bawah Rp100 juta per unit, produk mobnas akan mampu bersaing dan menarik minat konsumen,” ujar Ibnu , kemarin di kantor Kementerian Perindustrian.

Ia mengungkapkan, harga mobil-mobil yang ada saat ini dinilainya sudah tidak terjangkau lagi harganya oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Akibatnya, banyak warga Indonesia yang lebih melirik sepeda motor sebagai kendaraan alternative setelah kendaraan umum.

Celah inilah yang menurut Ibnu harus bisa dimanfaatkan produsen mobnas, agar produknya bisa menarik perhatian masyarakat.

“Produk mobnas harus dipasarkan dengan harga di bawah  harga mobil-mobil sekarang, tapi di atas sepeda motor, sehingga bisa menjadi peralihan orang bersepeda motor yang ingin naik mobil,” tambahnya.

Jika produsen mobnas mau memasarkan produknya dengan harga tersebut, ia yakin perkembangan mobnas juga akan pesat dan mampu menyaingi produsen mobil asing yang sudah lama bermain di tanah air.

Asianusa berharap, kedepannya Indonesia tidak melulu bekerja sebagai agen penyalur saja tapi bisa menjadikan mobnas tuan di negeri sendiri.

Jangan Hanya ATPM

“Kita harusnya juga bisa menjadi prinsipal, tidak melulu selama puluhan tahun hanya menjadi ATPM saja dinegeri sendiri,” tandas Ibnu.   Untuk itu. selain melakukan riset, juga harus diciptakan iklim sirkulasi pasar yang kondusif, agar apa yang telah kita buat bisa kita pasarkan sendiri.Disinilah, lanjutnya, peran pemerintah dibutuhkan, sebagai penentu kebijakan regulasi.

Menurutnya, untuk jangka pendek, menjadi ATPM barangkali bagus untuk mengembangkan pergerakan industri otomotif nasional, tapi itu dinilai bisa menghambat perkembangan industri otomotif nasional dalam jangka panjang. (poskota)


 
< Prev   Next >
Latest News
Most Popular News