Home
News Index
Forum
Kirim SMS Gratis!
Search
Download Software
Contact Us

Bookmark and Share







Subcribe RSS Feed
Ransomware Mulai Marak Menyerang Komputer
Wednesday, 16 December 2015
 Para ahli komputer memperingatkan, ransomware adalah jenis virus malware yang berkembang paling pesat. Virus jahat ini mengunci komputer sehingga tidak dapat diakses pengguna , kemudian meminta bayaran untuk pengembalian data mereka.

Pemerintah Australia mengklaim 72 persen bisnis yang disurvei mengalami insiden ransomware pada 2015. Dua tahun lalu, survei serupa menunjukkan perusahaan yang terimbas ransomware hanya 17 persen.

Ransomware juga semakin jadi ancaman bagi perangkat mobile karena bisa disembunyikan dalam aplikasi.

Wakil kepala perusahaan keamanan internet Lookout, Gert-Jan Schenk, menjelaskan, "Umumnya ransomware disebarkan lewat unduhan yang tidak disadari; ia berpura-pura menjadi aplikasi populer, yang menambah peluang Anda mengkliknya."

"Demi menghindari ancaman ini, pengguna harus sangat berhati-hati dalam memasang aplikasi, dan melihat dari mana mereka berasal, baca ulasannya di Google Play, dan hindari mengunduh dari sumber yang tidak bisa dipercaya."

Cara kerja

Layaknya virus komputer pada umumnya, ransomware sering tiba di komputer dalam bentuk email phishing, spam, atau pembaruan perangkat lunak palsu dan penerima email mengeklik tautan atau membuka lampirannya.

Virus itu kemudian mulai bekerja, mengenkripsi data si pengguna.

Ketika komputer telah benar-benar terkunci, ia meminta bayaran, seringkali dalam bentuk bitcoin karena lebih sulit dilacak untuk pengembalian data.

Uang tebusan biasanya satu atau dua bitcoin, setara dengan USD500, atau sekira Rp7 juta. Setelah melewati batas waktu pembayaran, jumlah uang tebusan akan bertambah.

Data cadangan

Terkadang ransomware sekadar mengancam, tapi seringkali virus itu benar-benar mengenkripsi data. Satu-satunya cara mendapatkannya kembali tanpa membayar tebusan ialah mengambil versi cadangan.

Neil Douglas, dari perusahaan jaringan yang berbasis di Edinburgh, Network Roi, baru saja membantu bisnis kecil-kecilan yang servernya diserang ransomware.

"Kami harus mendapatkan kembali semuanya dari back-up. Kami melakukan pencadangan dua menit sebelum diserang, jadi waktunya pas, tapi komputer sempat tidak bisa digunakan," tuturnya.

"Anda bisa membayar mereka, tapi itu seperti membayar pemeras. Kami sarankan itu sebagai upaya terakhir."

Ahli keamanan siber, Profesor Alan Woodward, mengatakan bahwa membayar tebusan dapat menjadikan lebih rentan akan kejahatan selanjutnya.

"Jika Anda membayar, Anda mungkin akan dikontak lagi," ujarnya. Menurut Woodward, geng kriminal menggunakan virus tersebut untuk mendapatkan uang.

"Mereka mendapat jutaan dolar dari itu. Ini kejahatan oportunistik. Mereka mencobanya ke semua orang. Pihak ketiga, seperti bank, tidak terlibat di sini."

Riset terbaru dari Palo Alto Networks memperkirakan satu jenis ransomware yang dikenal sebagai Crypto Wall telah menghasilkan sekitar USD325 juta (atau Rp4,6 triliun) bagi geng di belakangnya.



 
< Prev   Next >
Latest News
Most Popular News