Komitmen mengurai kemacetan terus dilakukan Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta. Hal itu tidak hanya dalam bentuk rekayasa jalan yang rawan
kemacetan, melainkan juga melakukan pengkajian penerapan sistem electronic road pricing (ERP). Kajian ERP kini
sudah memasuki pembahasan final.Salah
satu bahasan final yang dilakukan adalah pembatasan sepeda motor di
kawasan tertentu pada jam-jam sibuk mengingat semakin meningkatnya
pertumbuhan sepeda motor di DKI yang mencapai 900 unit per hari.
Penerapan rekayasa jalan melalui penertiban dan pengaturan lalu lintas
jalan bukan hanya berdasarkan faktor teknis untuk menyelesaikan
kemacetan, melainkan berdasarkan pendekatan komprehensif terkait dengan
masalah sosial dan ekonomi yang semuanya tertuang dalam konsep Pola
Transportasi Makro (PTM).
"Saya tekankan, untuk kota sebesar
Jakarta, diperlukan pengembangan transportasi yang menjadi prioritas
utama dalam agenda pembangunan. Itu tidak bisa ditawar lagi. Saat ini
kami sedang bangun transportasi massal berbasis mass rapid transit (MRT) dan bus rapid transit (BRT)," kata Gubernur Fauzi Bowo di Balai Kota DKI, Senin (26/7/2010).
Pembangunan
MRT dan BRT akan dilakukan secara bertahap karena diperlukan persiapan
rencana dan anggaran yang terencana dengan baik. Sambil MRT dan BRT
berjalan, Pemprov DKI pun melakukan rekayasa teknik jalan yang
diharapkan dapat mengurai kemacetan di kota Jakarta. Salah satunya
melakukan sterilisasi jalan di Jalan Raya Pasar Minggu dan Jalan Buncit
Raya, Jakarta Selatan. Kedua kawasan tersebut sejauh ini dikenal sebagai
langganan terjadinya kemacetan.
 Hal ini diakibatkan cukup
banyaknya parkir-parkir liar di pinggir jalan yang mengganggu lancarnya
kendaraan bermotor sehingga terjadi kemacetan. "Seperti Pasar Minggu
macet, maka kemacetan akan sampai ke pusat kota. Ini yang akan kami
pecahkan dengan langkah-langkah penertiban dan pengaturan lalu lintas
yang lebih konsekuen," ujarnya.
Tak hanya itu, Pemprov DKI juga
akan melakukan langkah mempermudah alur lalu lintas di kawasan Semanggi,
Jakarta Selatan. Selama ini, lalu lintas di depan Plaza Semanggi selalu
menjadi simpul kemacetan karena di kawasan tersebut ada pintu masuk
tol. Untuk itu, Dinas Perhubungan (Dishub) DKI akan menata ulang
alur lalu lintas di Semanggi dan akan dilakukan penyesuaian pintu masuk
tol agar tidak tertumpuk di Semanggi. Saat ini, hal tersebut sedang
dilakukan pengkajian dan diharapkan simpul kemacetan Semanggi bisa
terurai dengan baik.
Rekayasa teknik jalan lainnya untuk
meminimalisasi kemacetan, Fauzi menerangkan, dirinya telah meminta
Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya dan Dishub DKI untuk
menertibkan sepeda motor yang masih banyak jalan di sembarang jalur.
Bahkan, tidak tertutup kemungkinan, kajian akan dilakukan untuk
menerapkan jam-jam bebas sepeda motor di kawasan-kawasan tertentu.
"Kemudian
membatasi kawasan tertentu untuk pada jam-jam tertentu tidak dipadati
oleh kendaraan sepeda motor. Karena pertumbuhan sepeda motor ini sudah
mendekati 900 unit per hari, ini sudah sangat mengkhawatirkan. Jadi,
perlu ada kawasan tertentu, jam-jam tertentu kami larang motor lewat.
Itu termasuk rekayasa teknik yang kami lakukan," bebernya.
Di
sisi lain, Pemprov DKI merencanakan ada pembatasan jumlah kendaraan
dengan konsep ERP terhadap kawasan-kawasan yang rawan kemacetan. Opsinya
sedang dikaji dan sudah sampai tahap final sekarang. Adapun
pemberlakuan nomor polisi ganjil genap kemungkinan besar belum bisa
dilakukan karena ditemukan banyak kelemahan yang cukup mendasar dalam
konsep tersebut. Misalnya, dikhawatirkan warga akan bisa memiliki dua
nomor polisi untuk satu kendaraan.
Fauzi menegaskan, semua
terobosan rekayasa teknik jalan itu segera diterapkan sambil menunggu
pembangunan MRT, pengembangan BRT, dan pembangunan jalan susun rampung.
|